Mega Sebut Jokowi Petugas Partai, Jokower Yang Bukan Kader PDIP Gimana Perasaannya?

Posted on

Tidak bisa di pungkiri, bahwa kemenangan Jokowi menjadi Presiden ke 7 Republik Indonesia bukan saja hak dari partai politik pengusungnya, PDI Perjuangan. Namun ada investasi dan hak politik rakyat yang sejatinnya bukanlah kader partai “moncong putih”. Mereka merelakan diri bergabung menjadi kelompok relawan dan pendukung Jokowi.

Jadi, klaim Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang sebut Jokowi sebagai ‘petugas partai’ memang menimbulkan polemik yang panjang. Bahkan sebagian relawan Jokowi merasa terhina Jokowi di perlakukan seperti itu. (Baca, Efek Mega sebut Jokowi Petugas Partai: “Jokowi Terhina dan Saling Hina)

Politisi PPP, Ahmad Yani berkomentar di laman Twitter-nya, “Pengabdian Presiden dan Wakil Presiden ditujukan kepada seluruh rakyat baik yg memilih maupun yg tdk memilihnya,” tulis akun resminya @Ayaniulva.

Artinya, yang bukan memilih Jokowi pun sejatinya punya hak untuk dilayani, bukan cuma mereka yang memilih Jokowi saja. Inilah norma yang berlaku dalam alam demokrasi sejatinya.

Tapi rasanya, Megawati yang pernah menjadi Presiden tak memahami hal tersebut. Dan yang membuat geli, usai Megawati sebut Jokowi “Petugas Partai” di pidato pembukaan Kongres. Kemudian pada penutupan Kongres, Megawati pun merasa dirinya seperti Presiden. Wow! Jokowi di jatuhkan di depan publik, kemudian Mega pun menaikkan dirinya sendiri didepan publik juga. (Baca, Usai sebut Jokowi Petugas Partai, Megawati Pun sebut Dirinya seperti Presiden)

Tentu saja, yang perlu jadi perhatian adalah, bagaimana perasaan mereka “Jokower” yang bukan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melihat Jokowi diperlakukan sebagai Petugas Partai? Pastinya hancur berkeping-keping, kecewa dan tak tahu harus bagaimana. Karena penyebutan Petugas Partai kepada Jokowi sama saja melecehkan “harga diri” Jokowi sebagai Presiden. (Baca, Jokowi dilecehkan di Kongres PDIP)

Tidak sampai disitu saja, bahkan Megawati pun mempersilahkan kader PDIP yang tidak mau disebut sebagai “Petugas Partai” keluar. Pesan tersembunyinya adalah, Megawati dekalrasikan diri sebagai “Bos” yang harus di taati oleh semua kader PDIP, termasuk pria yang bernama Jokowi itu.

Betul, ada banyak tokoh nasional, ulama, aktivis, artis, pemuka agama, dan profesi lain yang mendukung Jokowi yang bukan kader “moncong putih”. Pertanyaan sederhana lagi, gimana perasaan mereka sekarang ini ketika presiden Jokowi yang sudah didukung mati-matian cuma di jadikan “petugas partai” saja?

[JK Sinaga]
 
 

Silahkan Berkomentar