Usai Cium Tangan Puan, Kini Menteri Yuddy Ajak Aparatur Negara Teladani Jokowi

Posted on

Publik masih belum lupa akan aksi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Yuddy Chrisnandi yang mencium tangan Puan Maharani beberapa waktu yang lalu. Dan, Menteri Yuddy sendiri tak begitu permasalahkan publik yang banyak berikan komentar terhadapnya. Anehnya, beberapa netizen malah di block akun twitter-nya ketika mengkritik Menteri Yuddy.

Kini, kabar menghebohkan lagi di sosial media, dimana Menteri Yuddy ajak aparatur negara menjadikan Jokowi sebagai teladan. Akun @Dedidjawa mau ketawa ketika merespon berita yang berjudul: “Menteri Yuddy Ajak Aparatur Negara Teladani Jokowi” di laman Twitter.

“Ngakak rame rame yuk?….,” tulisnya singkat, namun mengundang pesan yang dalam.

Adapun berita tersebut, sebagaimana dirilis dari laman JPPN (3/4), Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Yuddy Chrisnandi menyatakan bahwa modal utama Indonesia ke depan bukanlah ekonomi maupun politik. Menurutnya, justru modal penting bagi perjalanan Indonesia ke depan adalah  keteladanan para pemimpin dan aparaturnya.

Yuddy menegaskan, dengan keteladanan maka perubahan bisa dilakukan secara cepat tanpa menimbulkan gejolak. Sebab, keteladanan merupakan kunci utama perubahan.

“Panglima perubahan adalah keteladanan, karena itu aparatur negara harus menunjukkan keteladanan sebagaimana dicontohkan Bapak Presiden” tutur Yuddy dalam keterangan persnya, Jumat (3/4).

Menteri asal Hanura itu menambahkan, keteladanan aparatur negara tercermin dalam berbagai hal. Antara lain dalam perilaku hidup sederhana dan tidak pamer kemewahan.

Yuddy mencontohkan, aparat negara dalam melaksanakan hajatan keluarga hendaknya dilakukan secara bersahaja sebagaimana amanatkan SE MenPAN-RB Nomor 13 Tahun 2015 tentang Gerakan Hidup Sederhana.

Ia menambahkan, hidup sederhana juga bisa diwujudkan dengan menggunakan pesawat kelas ekonomi dalam melakukan perjalanan dinas seperti dicontohkan Presiden Jokowi.

“Aparatur negara harus menjaga kepatutan, apabila melaksanakan syukuran atau hajatan tidak boleh mempertontonkan kemewahan,” tegas Yuddy. [jks]
 
 

Silahkan Berkomentar