KADIN: Kinerja Ekspor Anjlok, Perekonomian makin Memprihatinkan

Posted on
Presiden Jokowi saat lepas Ekspor Sulsel Ke- 24 Negara (foto: youtube)
Presiden Jokowi saat lepas Ekspor Sulsel Ke- 24 Negara (foto: youtube)

Beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan perekonomian Indonesia saat ini lebih baik dari tahun 1998 dan 2008. Pelemahan ekonomi Indonesia adalah efek dari kondisi global yang tidak mendukung. Jokowi berdalih, kejadian tersebut tidak hanya menimpa Indonesia saja, semua negara kena imbasnya.

Ditengah perekonomian yang terus mengalami pelambatan, kondisi ekspor Indonesia yang seharusnya bisa maksimal, ternyata anjlok. Retorika yang disampaikan Jokowi harus didukung dengan langkah konkrit pemerintah. Slogan kerja, kerja dan kerja terus diuji dalam mengatasi masalah ekspor yang menurun.

Dilansir laman Bisnis, Kamis (3/9/2015), Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto  mengatakan kondisi tersebut karena pada paruh pertama tahun 2015 ini kinerja ekspor jatuh sampai 11,8%.

“Krisis finansial global tahun 2008-2009, nilai ekspor merosot sangat dalam karena kinerja industri lemah dan ekspor mayoritas berbasis bahan mentah yang mengalami penurunan harga di pasar dunia,” katanya, Kamis (3/9/2015).

Ia mengingatkan kegiatan ekspor adalah andalan perekonomian nasional karena dari kegiatan inilah cadangan devisa dikumpulkan karena semakin besar cadangan devisa yang dimiliki Indonesia maka dinilai semakin kuat pula posisi ekonomi RI.

“Tetapi di sisi lain kinerja impor juga menurun lebih drastis karena biaya impor meningkat yang disebabkan menurunnya nilai rupiah, sehingga memukul dunia industri. Banyak PHK karena perusahaan tidak dapat menyesuaikan biaya produksi yang maningkat pesat,” katanya.

Ia menjelaskan, meskipun terjadi surplus pada neraca perdagangan di semester I 2015, hal itu bukan karena prestasi ekspor, melainkan lebih dikarenakan penurunan impor yang signifikan pada periode tersebut (15,1%).

Di sisi lain, ujar Suryo Bambang Sulisto, ekspor menurun 11,67%. Penurunan impor dan ekspor ini dinilai merupakan sinyal tanda bahaya bagi kinerja ekonomi eksternal Indonesia.

Sejumlah saran yang telah ditawarkan Kadin terkait ekspor-impor adalah mengurangi kandungan impor dan meningkatkan kandungan lokal (TKDN) dalam pengembangan industri yang mempunyai ketergantungan tinggi pada kandungan impor.

Selanjutnya, membangun dan memberdayakan industri yang memiliki kemampuan ekspor tetapi lemah dalam permodalan dengan memberikan dukungan pemerintah dan perbankan yang berupa subsidi bunga serta memberikan stimulus fiskal.

[sal]
 
 

Silahkan Berkomentar
loading...
(Visited 31 times, 1 visits today)
Loading...