Pada Akhir Tahun 2015, Krisis Pangan Diproyeksi Makin Parah

Posted on

Padi mengering
Swasembada pangan masih menjadi mimpi yang belum tercapai oleh negara Indonesia. Sampai saat ini Indonesia masih menjadi negara importir untuk kebutuhan pangan dalam negeri. Bukan malah menjadi negara yang bebas dari tekanan impor, Indonesia kini diproyeksikan terancam krisis pangan pada akhir tahun 2015. Komoditas beras menjadi komoditas yang paling parah terkena krisis.

Dilansir Okezone, Minggu (13/9/2015), Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, selama Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjabat, sudah ada beberapa komoditas yang harganya mengalami gejolak. Pertama beras, Januari-Maret harga beras naik 30 persen sampai 40 persen.

“Harga beras hari ini sudah dekati harga di Maret. Perkiraan saya kalau begini, akhir tahun krisis pangan parah,” kata Dwi di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (13/9/2015).

   

Lalu, gejolak harga terjadi pada komoditas bawang merah, sempat mengalami kenaikan harga di awal 2015, namun belakangan ini harga bawang merah terjun bebas lantaran biaya produksi dan panen yang mahal.

“Setelah dua bulan drop harganya, sama juga seperti tomat karena biaya panen mahal,” tambahnya.

Lalu, melonjaknya harga komoditas juga terjadi pada harga jual daging sapi belakangan ini. Di mana, harga daging sapi sempat tembus sekitar Rp130.000 per kilogram (kg).

Setalah harga daging sapi, harga daging ayam pun mengikuti pergerakan daging sapi yang melonjak cukup signifikan. Di manan daging ayam sempat menyentuh Rp40.000 per kg.

“Nilai tukar petani juga jatuh dibandingkan dengan tahun lalu, Maret-Mei nilai tukar Petani drop, kalau 2014 harga malah stabil,” tandasnya.

[sal]
 
 

Silahkan Berkomentar
(Visited 48 times, 1 visits today)
Loading...