Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Presiden Jokowi Salahkan Impor Indonesia

Posted on

Jokowi-memang-aneh
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Indonesia terlalu banyak mengimpor, sehingga berdampak pelemahan nilai tukar rupiah pada beberapa bulan terakhir. Di hadapan diaspora Indonesia yang hadir di Wisma Indonesia di Doha, Qatar, Senin (13/9) malam, Presiden Jokowi menyatakan buruknya kondisi ekonomi global dan tingginya impor menyebabkan tergerusnya nilai tukar rupiah.

“Sekarang pada kisaran Rp 14.000, tapi ingat, tahun 1998 dari Rp 1.800 per dolar AS loncat menjadi Rp. 15.000. Oleh karena itu, yang kita kejar saat ini adalah substitusi dari barang impor,” ujar Presiden Jokowi melalui pernyataan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Selasa (14/9).

Presiden Jokowi mengakui saat ini Indonesia sedang menghadapi tantangan ekonomi cukup berat sebagai akibat melemahnya perekonomian global. Tekanan ekonomi itu, lanjutnya, tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga negara-negara lain.

Bahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih jauh di atas banyak negara, seperti Singapura dan Malaysia.

“Memang, nilai tukar rupiah kita terhadap US$ saat ini berada di level Rp. 14.300,” katanya.

Dikatakan, saat ini pemerintah terus berupaya memangkas impor untuk memperkuat posisi rupiah. Selama ini Indonesia dibanjiri barang-barang impor, mulai dari barang elektronik hingga sayur-mayur, seperti jagung, bawang merah, termasuk gula dan garam.

“Seandainya kita tidak perlu mengimpor barang-barang itu, nilai tukar rupiah tidak akan melemah seperti saat ini,” kata Presiden Jokowi.

Saat ini pemerintah terus menekankan pentingnya melakukan transformasi dari sektor konsumsi ke sektor produksi, sehingga akan terjadi penguatan di sektor produksi, seperti peningkatan produksi beras, kedelai, jagung, gula dan daging, meski semuanya memerlukan waktu.

“Menteri pertanian saya perintahkan untuk urusan beras, kedelai, jagung dalam tiga tahun, dan gula lima tahun, daging memerlukan waktu lebih dari lima tahun,” kata Presiden Jokowi.

Di sisi lain, pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan infrastruktur. “Misalnya jalan tol trans Sumatera, kalau tidak segera mulai, bila ditunda akan semakin mahal harganya, nanti pembebasan lahan menjadi mahal,” kata Jokowi.

Editor: Wira
Sumber: Beritasatu
 
 

Silahkan Berkomentar
loading...
(Visited 37 times, 1 visits today)
Loading...